Sabtu, 14 Agustus 2010

Peran Ganda

Bila kita melihat potret umat Islam dewasa ini, kita akan mendapatkan bahwa proses kebangkitan umat senantiasa bergulir. Hari demi hari selalu memberikan rasa optimis kepada kita bahwa umat Islam akan tampil sebagai khalifah Allah di muka bumi yang akan memimpin manusia dengan keadilan Islam. Amanah ini harus diambil oleh umat Islam dan dijalankan dengan sebik-baiknya. Sehingga Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin benar-benar dirasakan oleh semesta alam. 
Namun proses menuju kepemimpinan itu tentu tidak hanya dibiarkan begitu saja. Perlu waktu dan pengorbanan. Perlu tenaga dan kemampuan. Perlu persiapan yang matang sesuai dengan besarnya amanah yang akan dipikul. Di antara sekian banyak kesempatan, juga banyak rintangan yang harus dilewati. Dari sekian banyak kelebihan, terdapat banyak kekurangn yang harus ditutupi. Bertolak dari sini, seorang da’i perlu mengoptimalkan peranan gandanya dalam berdakwah. Seorang da’i tidak hanya memerankan satu kewajiban, tapi banyak kewajiban dalam satu waktu. Semua itu bisa dilakukan dengan manajemen waktu yang baik dan berdasarkan kepada skala prioritas.
Ketika seorang da’i memerankan kewajiban sebagai pelajar, dia juga dituntut untuk memerankan kewajiban sebagai seorang mujahid di jalan Allah dengan kadar kemampuannya. Di saat dia menjabat sebagai kepala rumah tangga, dia juga  dituntut untuk menjalankan kewajibannya sebagai anggota dari masyarakatnya. Di saat dia berperan sebagai imam di mesjid, dia juga dituntut untuk menjadi da’i ilallah. Semua peranan itu harus diperankan secara seimbang tanpa terpisah seseuai dengan kadar kewajiban dan kemampuan da’i untuk melaksanakannya.
Rasulullah Saw adalah contoh tauladan bagi kita dalam melaksanakan pernan ganda ini.  Sebagai kepala negara, Rasulullah juga melakukan peranan sebagai kepala rumah tangga yang terbaik terhadap keluarganya. Ketika menjadi pimpinan perang Rasulullah adalah tauladan dalam kepintaran, keberanian, dan taktik perangnya. Sebagai seorang da’i, Rasulullah juga berperan sebagai seorang mu’allim (guru) yang terbaik kepada murid-muridnya. Begitulah peranan yang dicontohkan oleh Rasulullah untuk diikuti oleh umatnya. Dan Rasulullah adalah orang yang terbaik dalam setiap peranan yang Beliau lakukan.
Sikap ini diteruskan oleh para sahabat. Mereka juga telah melakukan peranan gandanya dengan baik. Sebagai contoh, kita bisa melihat kisah Abu Bakar r. a. ketika di suatu pagi menghadiri sebuah majlis Rasulullah bersama para sahabatnya. Waktu itu Rasulullah bertanya kepada para sahabat tentang siapa di antara mereka yang berpuasa hari ini, siapa yang telah bersedekah, mengantar jenazah dan melayat orang sakit. Abu bakar kemudian menunjuk pada setiap pertanyaan itu. Dialah yang telah melakukan semuanya. Ini baru pada pagi hari. Mari kita bayangkan kira-kira berapa peranan yang dilakukan oleh Abu Bakar dalam satu hari.
Peranan ganda ini akan lebih optimal lagi bila kita bingkai dengan kerja sama yang baik dalam berdakwah. Atau yang lebih kita kenal dengan istilah amal jama’i. Dengan itu kita bisa memperluas peranan dakwah ini kepada seluruh elemen masyarakat. Tidak terbatas pada satu elemen saja seperti mahasiswa misalnya. Namun peranan dakwah kita juga menyentuh kaum elit dan pegawai pemerintah, pedagang dan petani, polisi dan militer, serta kaum buruh, nelayan dan lain sebagainya.
Bila masing-masing da’i melakukan peranan gandanya dengan optimal maka proses kebangkitan umat yang kita idam-idamkan akan semakin singkat. Terakhir kita tutup dengan pesan Imam Al Banna, beliau berkata: ”Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia.” Wallahu a’lam.  Ulyadi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar